Kamis, 09 Maret 2017

CERPEN: Rasa Yang Timbul Dari Tidak Suka

GANG  

      Di meja makan saat sarapan aku hanya terdiam, tidak menggubris perkataan ayah sama sekali. Aku sudah bosan dengan ayah karena menjodohkan dengan anak temannya yang bernama Rena. Gimana aku bisa mau, karena Rena adalah pemimpin dari musuh gang aku. Yang adalah kalau serumah bakal ada tarian lempar piring.
            “Nathan, kamu jawab dong kalau ditanya, kok diem terus?”
            “Ah, males, ayah tetap jodohin aku.”
            Aku memilih pergi untuk meredakan emosi. Lebih baik aku ke markas pusat degan mengendarai Jack. Jack adalah panggilan kesayangan untuk motorku. Seperti biasa, jika ada masalah aku selalu bilang dengan mereka dan yang masih kutemui sampai sekarang yaitu Sam dan Ray.
            “Apa? Ayah lho masih jodohin lho ma Rena? Ngga nyerah ya dia?”
            “Yups…aku ngga mau nikah sama tuh orang. Titik…”
            Sam yang melihatku dari tadi langsung menasehatiku dengan duduk di samping. “Lebih baik lho nurut aja. Dia ngga buruk-buruk amat. Lho ngga sayang sama bokap lho. Gue akui, Rena adalah musuh terberat kita. Tapi pikirin deh bokap lho. Semenjak nyokap lho meninggal, kayanya lho agak sedikit brutal.” 
            Aku yang tidak terima dengan perkataan Sam, langsung membantahnya dengan sewot. “Kamu milih Rena dibanding gue?”
            “Bukan gitu, Nat. Semenjak nyokap lho meninggal pasti dia ngerasa kesepian. Yang diharapkan sekarang dari bokap lho adalah lho bisa mewujudkan keinginan dia. Coba aja dulu.”
            “Ada angin apa lho jadi dewasa gini? tanyaku heran.
            “Kita bukan anak-anak lagi kaya gang berandalan di sekolah. Udah seharusnya kita pilih jalan kita masing-masing.”
            Aku yang melihat perubahan Sam  kagum dengan dia karena Sam dulu adalah anak ternakal di gang dan terbandel di sekolah. Tapi, sekarang dia mensehatiku dengan dewasa. Aku jadi malu karena aku yang dulu sebagai pemimpin gang dan yang tertua berpikiran seperti bocah.
            “OK, gue rundingin ini sama Rena. Aku pergi dulu.”
            “Aku doain supaya lancar.” jawab Ray. 
            Aku menyalakan motorku dan menuju rumah Rena. Katanya saat di telpon, dia sedang ada di rumah. Ketika masih di jalan aku menerima sebuah panggilan. Awalnya tidak ingin aku angkat, tapi akhirnya aku menepikan motorku dari jalan karena ponsel yang terus berdering.
            “Oh, Rena, kenapa telpon aku?”
            “Kita ketemu di taman aja. Aku mau ngomong serius tanpa didenger kedua orangtuaku.”
            “Ha? Taman? Sejak kapan kamu punya sifat cewek?”
            “Ngga usah banyak tanya.” dengan sewot dia memutus sambungannya. Benar-benar cewek yang aneh. Ketika sampai aku mencarinya di sudut taman, tapi tidak ketemu. Aku jadi ragu apa benar dia mengajakku ke sini atau dia ingin mengerjaiku. Karena jarak rumah Rena dan taman sangatlah dekat.
Sepuluh menit aku menunggu akhirnya dia datang penampilan yang berbeda, memakai dress dengan rambut terurai. Hatiku jadi berdebar.
            Tanyanya dengan sinis. “Mau ngomong apa? Ngajak kelahi lagi?” jawabku tegang.“Masalah perjodohan kita.”
            “Kapan kamu jadi cowok serius? Bukannya kamu cowok jalanan yang selalu tret-tretan. Tumben kamu bahas ini?”
            “Semenjak Sam nasehatin aku, aku jadi kepikiran sama ayah.”
            Rena yang mendengar nama Sam tidak percaya jika dia bisa merubahku. Menurutnya, Sam adalah anak ternakal di sekolah kami dulu. Itu sama seperti pemikiranku sebelumnya namun aku menyakinkan kalau Sam sudah berubah.
            “Kamu mau ngomong apa masalah perjodohan?”
            “Aku memilih untuk meneruskan perjodohan ini.” Rena kaget dengan keputusanku. “Apa, kamu setuju” Alasannya?”
            “Aku mikirin ayah. Aku tahu, ini buka alasan yang kuat untu perjodohan kita. Tapi kenapa ngga kita coba aja dulu.”
            “Coba? Perjodohan kita itu langsung naik pelaminan, Nat.”
            Perjodohan ini bukan main-main. Aku harus menikah dengan wanita yang dulu kubenci. Kalu aku menikahinya, itu berarti aku harus hidup semati dengannya. Aku harus bertanggung jawab jika dia berbuat salah karena nanti aku akan menjadi suaminya.
Tak lama aku mendapat telpon dari ayah jika adikku, Felie kecelakaan. Aku yang mendapat kabar itu langsung buru-buru ke rumah sakit dan Rena ingin ikut denganku untuk tahu kondisinya.
Untuk pertama kalinya aku satu motor dengan Rena. Dia memeluk tubuhku seperti seorang kekasih. Aku jadi berpikiran yang aneh-aneh. Karena jalan yang macet membuatku datang telat ke rumah sakit. Aku langsung bertanya pada receptionist. Katanya Felie dirawat di ruang UGD karena luka yang cukup parah.
Aku melihat ayah terduduk di bangku tunggu sambil menegarkan hatinya. Tiba-tiba ayah bingung kenapa aku bisa jalan bersama dengan Rena. Menurutnya itu kejadian yang langka. Kemudian aku berkata pada ayah aku setuju dengan perjodohan ini.
Ayah kaget dengan itu.“Apa? Kamu ngga bercanda, kan?” aku meyakinkanya “Ya yah, aku setuju. Tapi kalau Rena masih belum tahu.” Aku dan Rena saling berpandangan. Sangat lama Rena menjawabnya. Aku tahu saat ini dia sedang bingung. Kalau aku jadi dia, aku pasti akan sama dengannya.
Akhirnya dia berkata ya. Tidak sampai di situ, aku akan meneruskan perusahaan ayah. Tergurat senyuman ayah yang membuatku senang. Mungkin ini saatnya aku memikirkan masa depanku.
“Lain waktu kita akan bicarakan ini sampai adikmu sadarkan diri dan sembuh total.’ ayah mengingatkan.
Aku memandang Felie dari luar kamar. Aku berharap semoga dia bisa sadar dan mendengar jika kakaknya akan menikah. Ada satu bulan Felie rawat jalan. Aku sebagai kakaknya setia berada di sampingnya. Karena kesehatannya yang mulai membaik, keluargaku dan keluarga Rena membahas pernikahan kami.
“Kaliam mau seperti apa konsep pernikahannya? tanya ibu Rena.
“Kita mau yang konsepnya modern aja.” kata Rena.
Ayahku tertawa mendengarnya. “Jadi kalian sudah pikirin inin sebelumya? Rena dan aku tersenyum malu. Karena sudah disepakati dua belah pihak, acara pernikahan akan diselenggarakan dua bulan mendatang. Temanku Ray dan Sa,m senag mendengar ini, bahkan Mona teman satu gang Rena dulu membantu dalam urusan gaun pengantin.
“Ren menurutku, ini cocok untuk kamu deh? Kamu kan orangnya simple dan elegant gitu.”
“Aku pikir, ya juga sih. Nathan, gaunnya cocok buat aku ngga?” aku   menganggukan kepala.  Seperti itu saja dia sudah terlihat cantik, apalagi saat acara nanti. Tidak terasa acara pernikahan kami sudah tiba. Aku mengikrarkan ijab Kabul dengan lantang, sampai sbelumnya aku harus latihan. Tapi sekarang aku lega karena sudah menjalani itu.
“Ccciiee…. yang udah nikah.’ ejek Mona dan Felie.
Rena langung memarahi mereka karena malu. Ray juga tidak ingin kalah dengan Mona dan Felie, dia membisikkan ini padaku. “Nat, hati-hati mainnya. Slow aja.” Aku yang tidak mengerti langsung bertanya “Maksudnya?’
“Pura-pura polos. Malam pertama.”
“Ngeres banget sih pikiran lho.” reflek aku mendorongnya sampai terjatuh. Sam yang melihat bertanya mengapa aku lakukan itu. Aku jawab saja itu hanya sebuah candaan.
Enam bulan berlalu. Seperti biasa aku menjalankan perusahaan ayah dan menjaga janin yang ada dalan rahim Rena. Sudah lima bulan dia mengandung, tidak sabar melihanya ke dunia. Ngomong-ngomong bagaimana kehidupan Sam dan Ray?
Sam sekarang menjadi seorang chef dan memiliki restaurant sendiri. Aku dan Rena tak jarang makan di sana. Kalau Ray tetap menjadi dirinya, pembalap motor. Tapi ini berbeda, sekarang dia bermain di arena balapan bukan jalan lagi.
Jika Mona menjadi designer terkenal dan membuka butik di berbagai kota dan adikku , seperti biasa menjalankan kuliahnya selain menemani Rena di waktu senggang.
Sekarang aku melihat kehidupan yang ada di depanku. Perubahan yang terjadi padaku dan orang lain. Rena, orang yang dulu kubenci, sekarang menjadi istriku. Aku sudah jauh-jauh mencari wanita di luar sana tapi dia yang terpilih. Aku baru mengerti wanita yang aku tidak suka, tidak menutup kemungkinan menjadi wanita yang kucintai, karena dari ketidaksukaan itu membuat aku menjadi dekat dan selalu terpikirkan olehnya.
Sampai sini dulu ceritaku. Sampai jumpa dan selamat membaca kumcer JWP lainnya. Ciao!!!

THE END







Rabu, 08 Maret 2017

5 Getaran
          Saat ku dengar jika aku akan diangkat oleh keluarga baru, aku senang sekaligus sedih karena aku harus berpisah dengan teman-temanku di panti asuhan terutama Habil. Keluarganya sangat kaya dan banyak membantu kami. Walau dia kaya tapi, dia tidak sombong dan ramah. Ketika menaiki mobil, aku sempat menangis dan tidak ingin berpisah dengan mereka. Kak Veza berbicara padaku bahwa aku tidak boleh menangis dan lain waktu bisa datang kemari.
            Selama perjalanan aku hanya terdiam walau diajak bicara pada ibu angkatku. Namun, dia mnegerti keadaanku sekarang. Ketika sampai aku disambut hangat oleh keluarga Seckiner. Aku sedikit canggung dengan mereka. Saat ditanya namaku oleh tuan Olker yang katanya adalah ayah angkatku. “Siapa namamu, nak?” aku menjawabnya malu “Aku Ayse.”
            “Kau pasti lapar, bibi Zaidah sudah memasak makanan untukmu. Ayo, ikut aku.”
            Aku belum pernah makan makanan seenak ini. Aku memuji makanan yang dibuatnya. Di siini bibi Zaidah sudah mengabdikan hidupnya selama 22 tahun. Jadi tidak heran kalau ia sudah dianggap keluarga. Waktu mulai berjalan hingga aku menjadi dewasa. Itu tidak membuat pertemananku dengan Habil putus.
            Aku sering berkunjung ke rumahnya serta panti asuhan. Melepas rindu dengan kak Veza dan keluarga Habil. Aku juga berteman dengan Necati. Dia adalah teman sekolah Habil yang masih bersahabat dengannya. Aku bekerja satu perusahaan dengannya. Sebagai bendahara kantor. Tidak wajar kami sangatlah akrab, seperti hari ini, kami bicara santai di cafe.
            “Maaf ya, aku mengatakan ini. Dulu aku kira kalian cocok untuk pacaran. Kenapa tidak dicoba saja?” kata-katanya itu menusuk hatiku. Pertanyaan yang dilonrarkan Habil langsung ku jawab. “Temanmu ini pernah menyatakan cinta padaku, tapi aku menolaknya. Iya kan, Necati?”
            Necati dengan berat hati mengatakan iya. Aku ingin menegaskan pada Habil bahwa aku tidak mencintai Necati dan aku menganggap Necati adalah teman. Kemudian Habil meminta tolong padaku. Aku jadi deg-degan, ternyata alasan dia menanyakan hubunganku dengan Necati adalah Habil ingin menjadi kekasih palsuku agar Canzu tidak mengejarnya lagi. Canzu adalah wanita optimis dan tidak pernah menyerah untuk mendapatkan Habil. Aku pikir ini konyol.
            “Aku butuh waktu.”
            “Baiklah.” Habil mencoba sabar dengan jawaban yang aku berikan. Setelah dari café aku dan Necati langsung ke kantor. Aku tidak bicara apa-apa padanya sampai aku masuk ke ruangan kerjaku.. Aku tahu hati Necati sekarang. Walau aku tidak mencintainya tapi aku berusaha menjaga hatinya.
Keika ingin menyerahkan laporan keuangan pada tuan Idris, aku terkejut saat mendengar jika beliau menyelewengkan dana kerjasama. Karena itu aku tidak jadi memberikan laporannya dan langsung meminta orang IT untuk mengambil rekaman CCTV di ruangan tuan Idris.
“Ingat, jangan katakan ini pada tuan Idris. Kamu bisa melakukan ini saat kantor tutup. Simpan ke dalam CD ini dan berikan padaku besok.”
Setelah itu aku langsung ke ruangan tuan Idris untu memberikan laporan yang tidak sempat aku beri. Di hadapannya aku takut jika apa yang kulakukan ketahuan olehnya. Tapi, kuberusaha tenang. Kemudian dia mengambil laporannya dan mempersilahkanku pergi.
Aku tidak tahu, apakah yang kulakukan benar karena terlalu berisiko. Tuan Idris adalah bosku sekaligus ayah Necati. Namun aku yakin dia bisa mengerti. Keesokan harinya orang IT menyerahkan CD hasil rekaman. Dia berjanji untuk tidak mengatakan ini pada siapapun. Ketika aku pulang ke rumah, aku memutar hasil rekaman, ternyata benar, Tuan Idris melakukan korupsi dana kerjasama. Ini membuatku shock.
Tapi, menurutku bukti ini belum cukup. Karena aku ingin menyelidiki lebih lanjut, aku memutuskan untuk menyetujui kesepakatan itu. Jika dipikir aku bisa melihat permainan tuan Idris lewat Habil. Aku menelepon Habil bahwa aku telah setuju untuk menjadi pacar palsunya.
“Aku setuju. Kapan adegan bisa dimulai?”

****
Aku berharap di pagi ini apa yang kukerjakan lancar tanpa hambatan. Sekarang aku harus berpura-pura menjadi pacar Habil di depan semua orang.
“Ayse, apa kita tidak apa bermesraan dihadapan Necati?”
“Aku sedikit canggung tapi dia kan bukan pacarku. Aku mau tanya, kalau kita bermesraan secara tiba-tiba itu aneh. Semua orang tahu kalau kita teman dari kecil. Cara supaya mereka percaya, bagaimana?’
Aku bertanya seperti itu karena aku merasa ada yang ganjil. Aku ingin permainan kami lebih sempurna. Habil kemudian punya rencana yang tidak ingin dia katakan. Dia hanya menyuruhku datang ke pesta perayaan kesuksesan kerjasama perusahaan keluarga Habil dan Necati.
“Bawa kedua orangtuamu juga, ya.” Aku jadi makin penasaran dengan rencananya yang semoga tidak membuatku malu. Adegan pun dimulai. Aku dan kedua orangtuaku sudah datang ke pesta tapi Habil belum muncul juga. Akhirnya aku tahu idenya cemerlangnya. Ia menyatakan cinta palsunya itu ditengah-tengah pesta.
Aku sempat dibuat melayang. Ini benar-benar romantis, aku akui aktingnya seperti aktor terkenal. Untuk kali ini aku tidak melihat wajah Necati. Sudah pasti dia kecewa dengan keputusanku.
“Wah, sepertinya anakku menyukai anakmu.” ayah Habil mengatakan ini pada ayahku dengan senyum menggoda ke arahku dan Habil. Rencana Habil telah berhasil, kini giliranku yang bermain. Aku akan mencari tahu tentang tuan Idris dari Habil. Selesai acara aku langsung menemuinya dan membawanya ke tempat yang lebih sepi.
Aku mengajaknya ke café paradise besok untuk menanyakan suatu hal tanpa Necati. Dia juga bertanya bagaimana aktingnya tadi. Aku mengatakan padanya bahwa seharusnya dia menjadi  seorang aktor. Agak lama berbincang akhirnya aku  pamit untuk pulang.
****
Setengah jam aku menunggu di cafe, tapi Habil belum juga muncul. Akhirnya dia meneleponku kalau dia tidak bisa datang karena ibunya yang sakit. Malah dia menyuruhku ke rumahnya. Sesampainya di sana hatiku jadi berapi. Tidak tahu kenapa. Apa kehadiran Canzu yang tidak aku inginkan, aku tidak mengerti. Habil yang menantiku mengajakku ke kamarnya agar tidak terganggu dengan Canzu. Dia langsung minta maaf karena tidak menepati janji.
Sedikit basa-basi aku mulai berani untuk bertanya, dari mengapa Habil tidak pernah terjun langsung dalam bisnis itu sampai maslah yang benar-benar ingin aku tahu, masalah keuangan. Aku meminta laporan keuangan yang sudah diberikan Tuan Idris padanya.
Kemudian dia memberi laporan itu dan keherananku bertambah karena nilai nominalnya berubah. Tidak seperti yang aku kerjakan “Apa benar ini laporannya? Nilai nominalnya lebih kecil. Aku masih hafal bahkan keuntungannya harus lebih besar dari ini. Kalau tidak percaya besok aku akan berikan filenya.”
Kemudian aku memberinya sebuah CD, dia sangat bingung kenapa aku memberi ini dan aku menyuruhnya memutar CD itu. Ekspresinya sama seperti aku pertama melihatnya. Dia tidak menyangka tuan Idris sudah membohonginya. Ia ingin menghancurkan perusahaan Habil secara perlahan.
Aku memilih untuk pulang agar dia lebih tenang. Aku memintanya untuk tidak bicarakan ini pada Necati tentang tuan Idris. Aku ingin rahasia ini tidak terbongkar dan berpura-pura ridak tahu karena aku ingin mencari lebih banyak bukti.
Lambat laun mencari bukti membuat hubunganku dengan Habil semakin dekat hingga aku tidak bisa memungkiri jika aku mencintainya. Namun cinta tidak dapat diraih, aku tahu konsekuensinya. Habil tidak mencintaiku karena ini hanya sebuah sandiwara. Aku terlalu berlebihan menerima kebaikan yang dia beri.
Karena bukti yang kami kumpulkan sudah lengkap kami menuju kantor dimana aku bekerja. Tanganku menjadi dingin. Tidak bisa kubayangkan raut wajah tuan Idris dan rasa kecewa Necati karena tingkah ayahnya.
            Setibanya di kantor, kami langsung berbicara dengan tuan Idris. Tapi tuan Idris tidak mau mengaku dan itu yang membuat Habil emosi. Kemudian polisi menangkapnya sedangkan Necati hanya terdiam bingung melihat ayahnya tertangkap.
Aku menceritakannya tentang CCTV itu, pemalsuan laporan dan semuanya. Necati minta maaf pada Habil atas kelakuan ayahnya selama ini. Ia tidak keberatan jika itu hukuman yang pantas agar ayahnya jera.
Masalah belum selesai sampai di sini, menurutku menjadi tambah keruh. Canzu dating dengan kekesalannya. Dia mengatakan Habil dan aku pembohong sambil mengacungkan jarinya ke arah kami.
“Apa maksudmu mengatakan kami pembohong?” tanya Habil.
“Aku tahu kamu disuruh Habil untuk menjadi kekasih palsunya, kan? Aku mendengar percakapan kalian di cafe dan yang lebih mencengangkan lagi, bahwa kamu…” sambil menunjukku “Kamu menyatakan cinta pada Habil, tapi sayang kamu ditolak, kasihan..”
Aku yang tidak terima meninggalkan mereka di sana. Aku sangat malu sekali. Aku berpikir apa ini karma karena sudah menolak Necati. Namun ini buka salahku karena aku tidak mencintainya. Aku mendengar langkah kaki Habil mengejarku dan berteriak memanggil namaku. Aku tidak merespon tetapi aku berhenti melangkah untuk sekali ini saja bicara padanya.
“Lebih baik kamu urus Canzu dan jaga mulutnya untuk berhenti menghina orang lain.” Aku pergi dengan amarah dan rasa sakit yang teramat dalam.
            Lima bulan berlalu, aku bekerja dengan bos yang baru dimana Necatilah yang menjadi pimpinan perusahaan dan ayahnya masih mendekan di penjara. Selama lima bulan itulah hubunganku dengan Habil sedikit renggang walau kami sering bicara santai seperti sebelumnya. Tapi tetap aku merasa ada yang berbeda.
            “Habil, apa Canzu masih mengejarmu?” entah kenapa aku langsung menanyakan hal itu. Karena hubungan palsu ini aku terjebak dalam cinta. Habil berkata kalau Canzu masih terus mengejarnya. Kemudian ponselku berdering dan yang menelponku adalah Veas. Veas adalah teman kecil kami yang berkuliah di Amerika. Panjang lebar aku bercerita sampai aku lupa jika aku bersama Habil. Aku langsung memberikan ponselku padanya agar dia juga bisa bicara dengan Veas.
            Ia tersenyum senang saat itu. Melihat senyumnya saja aku sudah bahagia. Semenjak masalah itu, dia tidak pernah tertawa lebar seperti ini. Lalu ia memberikan ponselnya padaku dan Veas menyudahi pembicaraan.
            Aku penasaran apa yang mereka katakan. Kata Habil, enam jam lagi Veas akan datang. Aku memberikan ide pada Habil untuk memberi surprise akan  kedatangan Veas. Habil setuju dengan ideku dan ia menyuruhku menelpon Necati untuk datang ke rumah Veas karena Veas akan langsung pulang menuju rumahnya.
            Tidak terasa kami mempersiapkannya berjam-jam. Saat aku mendengar suara deru mobil kami langsung mematikan lampu seakan rumah dalam keadaan kosong. Ketika Ia menyalakan lampunya, Veas terkejut dan bahagia karena disambut semeriah ini. Seperti biasa ia selalu menanyakan keadaan kami. Aku langsung menjawabnya untuk menutupi kebenaran. Tapi Veas termasuk orang yang susah untuk dibohongi, dia meminta penjelasan kami. Aku terpaksa menceritakan semuanya. Dia hanya bisa menghembuskan nafas saat mendengar ceritaku.
            “Kalian itu konyol. Kalian sadar, persahabatan yang terjalin lama diantara kita hancur karena satu orang saja yaitu Canzu. Habil, telpon Canzu dan suruh dia ke sini. Jangan pernah bilang kalau Ayse ada di sini.”
            Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Kuakui Veas memiliki sifat penyabar tapi sekali saja dia tidak suka dengan orang itu, tanpa basa-basi dia akan menghampiri orang itu dan memarahinya.
            Dua puluh menit menunggu akhirnya dia sampai. Senyum ceria yang tergambar di wajahnya berubah menjadi wajah tidak suka karena melihat diriku. Kemudian Veas maju untuk berbicara pada Canzu, tapi sepertinya tidak bisa. Ia membentak Canzu dihadapanku. Pertama kali aku melihat Veas marah.
            Seketika Canzu terdiam karena luapan amarah Veas. Seharusnya, Canzu harus memiliki kekasih seperti dia, orang yang dewasa dan bijak. Lalu Veas memeluk Canzu dan mengatakan kalau semua orang mengerti dia, hanya saja Canzulah yang tidak mengerti sehingga ia dijauhi karena sifat yang buruk.
Canzu sudah bisa dipadamkan dan kini menjadi teman kamj, sekarang kisahku dengan Habil dan Necati. Ternyata cinta lebih rumit dibanding ilmu akuntansi. Cinta lebih memakai perasaan dibanding logika. Aku tidak ingin lagi bermain-main dengan yang namanya cinta.
            Saat kami berlima mengadakan pesta barbeque, Canzu menyuruhku ke dapur mencuci sayur. Aku melihat Necati dan Habil bicara serius. Aku mendengar mereka menyebut namaku. Habil berbicara sedikit tentangnya mengapa dia menolak cintaku. Dia tidak ingin mencintaiku karena kebohongan. Dia ingin memastikan apa cinta yang ia rasakan saat ini benar murni cinta. Necati jadi tahu alasannya dan ia berharap agar Habil tiak menyakitiku kedua kalinya. Jika itu terjadi Necati akan jadi orang pertama yang memusuhinya.
            Saat aku datang mereka terkejut. Aku mengatakan jika aku hanya ingin mencuci sayur saja dan mereka dipanggil oleh Veas untu membantunya. Dipesta yang kami rayakan sangat berbeda. Bukan hanya Canzu menjadi teman kami, dia sekarang menjadi pacar Veas. Tidak kusangka, aku berdoa semoga mereka tidak terpisahkan sampai naik pelaminan.
            Ketika makan barbeque, tanganku dipegang erat oleh Habil. Ia ingin bicara serius denganku selesai makan nanti. Necati yang melihatku tersenyum karena aku terlihat tegang. Selesai makan aku duduk berdua tanpa mereka bertiga. Ia bicara gugup sampai ia mengatakan padaku jika dirinya mencintaiku. Tapi aku tidak meras kaget dan itu yang membuatnya heran. Aku mengatakan padanya jika aku sudah tahu semuanya karena mendengar pembicaraan mereka di dapur tadi.
            Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri jika aku masih mencintai Habil. Yang masih terpikirkan adalah jika aku mencintai Habil bagaimana dengan Necati. Kemudian mereka bertiga datang menghampiri kami. Mereka semua mendukung jika kami menjadi sepasang kekasih, Necati sudah merelakanku. Akhirnya tidak ada lagi penghalang diantara kami. Pesta yang kami rayakan sekarang menjadi perayaan bersatunya aku dan Habil.

THE END