GANG
Di meja makan saat sarapan aku hanya terdiam,
tidak menggubris perkataan ayah sama sekali. Aku sudah bosan dengan ayah karena
menjodohkan dengan anak temannya yang bernama Rena. Gimana aku bisa mau, karena
Rena adalah pemimpin dari musuh gang aku. Yang adalah kalau serumah bakal ada
tarian lempar piring.
“Nathan,
kamu jawab dong kalau ditanya, kok diem terus?”
“Ah,
males, ayah tetap jodohin aku.”
Aku
memilih pergi untuk meredakan emosi. Lebih baik aku ke markas pusat degan
mengendarai Jack. Jack adalah panggilan kesayangan untuk motorku. Seperti
biasa, jika ada masalah aku selalu bilang dengan mereka dan yang masih kutemui
sampai sekarang yaitu Sam dan Ray.
“Apa?
Ayah lho masih jodohin lho ma Rena? Ngga nyerah ya dia?”
“Yups…aku
ngga mau nikah sama tuh orang. Titik…”
Sam yang
melihatku dari tadi langsung menasehatiku dengan duduk di samping. “Lebih baik
lho nurut aja. Dia ngga buruk-buruk amat. Lho ngga sayang sama bokap lho. Gue
akui, Rena adalah musuh terberat kita. Tapi pikirin deh bokap lho. Semenjak
nyokap lho meninggal, kayanya lho agak sedikit brutal.”
Aku yang
tidak terima dengan perkataan Sam, langsung membantahnya dengan sewot. “Kamu
milih Rena dibanding gue?”
“Bukan
gitu, Nat. Semenjak nyokap lho meninggal pasti dia ngerasa kesepian. Yang
diharapkan sekarang dari bokap lho adalah lho bisa mewujudkan keinginan dia.
Coba aja dulu.”
“Ada
angin apa lho jadi dewasa gini? tanyaku heran.
“Kita
bukan anak-anak lagi kaya gang berandalan di sekolah. Udah seharusnya kita
pilih jalan kita masing-masing.”
Aku yang
melihat perubahan Sam kagum dengan dia
karena Sam dulu adalah anak ternakal di gang dan terbandel di sekolah. Tapi,
sekarang dia mensehatiku dengan dewasa. Aku jadi malu karena aku yang dulu
sebagai pemimpin gang dan yang tertua berpikiran seperti bocah.
“OK, gue
rundingin ini sama Rena. Aku pergi dulu.”
“Aku
doain supaya lancar.” jawab Ray.
Aku
menyalakan motorku dan menuju rumah Rena. Katanya saat di telpon, dia sedang
ada di rumah. Ketika masih di jalan aku menerima sebuah panggilan. Awalnya
tidak ingin aku angkat, tapi akhirnya aku menepikan motorku dari jalan karena
ponsel yang terus berdering.
“Oh,
Rena, kenapa telpon aku?”
“Kita
ketemu di taman aja. Aku mau ngomong serius tanpa didenger kedua orangtuaku.”
“Ha?
Taman? Sejak kapan kamu punya sifat cewek?”
“Ngga
usah banyak tanya.” dengan sewot dia memutus sambungannya. Benar-benar cewek
yang aneh. Ketika sampai aku mencarinya di sudut taman, tapi tidak ketemu. Aku
jadi ragu apa benar dia mengajakku ke sini atau dia ingin mengerjaiku. Karena
jarak rumah Rena dan taman sangatlah dekat.
Sepuluh menit aku menunggu
akhirnya dia datang penampilan yang berbeda, memakai dress dengan rambut
terurai. Hatiku jadi berdebar.
Tanyanya
dengan sinis. “Mau ngomong apa? Ngajak kelahi lagi?” jawabku tegang.“Masalah
perjodohan kita.”
“Kapan
kamu jadi cowok serius? Bukannya kamu cowok jalanan yang selalu tret-tretan.
Tumben kamu bahas ini?”
“Semenjak
Sam nasehatin aku, aku jadi kepikiran sama ayah.”
Rena
yang mendengar nama Sam tidak percaya jika dia bisa merubahku. Menurutnya, Sam
adalah anak ternakal di sekolah kami dulu. Itu sama seperti pemikiranku
sebelumnya namun aku menyakinkan kalau Sam sudah berubah.
“Kamu
mau ngomong apa masalah perjodohan?”
“Aku
memilih untuk meneruskan perjodohan ini.” Rena kaget dengan keputusanku. “Apa,
kamu setuju” Alasannya?”
“Aku
mikirin ayah. Aku tahu, ini buka alasan yang kuat untu perjodohan kita. Tapi
kenapa ngga kita coba aja dulu.”
“Coba?
Perjodohan kita itu langsung naik pelaminan, Nat.”
Perjodohan
ini bukan main-main. Aku harus menikah dengan wanita yang dulu kubenci. Kalu
aku menikahinya, itu berarti aku harus hidup semati dengannya. Aku harus
bertanggung jawab jika dia berbuat salah karena nanti aku akan menjadi
suaminya.
Tak lama aku mendapat telpon dari
ayah jika adikku, Felie kecelakaan. Aku yang mendapat kabar itu langsung
buru-buru ke rumah sakit dan Rena ingin ikut denganku untuk tahu kondisinya.
Untuk pertama kalinya aku satu
motor dengan Rena. Dia memeluk tubuhku seperti seorang kekasih. Aku jadi
berpikiran yang aneh-aneh. Karena jalan yang macet membuatku datang telat ke
rumah sakit. Aku langsung bertanya pada receptionist. Katanya Felie dirawat di
ruang UGD karena luka yang cukup parah.
Aku melihat ayah terduduk di
bangku tunggu sambil menegarkan hatinya. Tiba-tiba ayah bingung kenapa aku bisa
jalan bersama dengan Rena. Menurutnya itu kejadian yang langka. Kemudian aku
berkata pada ayah aku setuju dengan perjodohan ini.
Ayah kaget dengan itu.“Apa? Kamu
ngga bercanda, kan?” aku meyakinkanya “Ya yah, aku setuju. Tapi kalau Rena
masih belum tahu.” Aku dan Rena saling berpandangan. Sangat lama Rena
menjawabnya. Aku tahu saat ini dia sedang bingung. Kalau aku jadi dia, aku
pasti akan sama dengannya.
Akhirnya dia berkata ya. Tidak
sampai di situ, aku akan meneruskan perusahaan ayah. Tergurat senyuman ayah
yang membuatku senang. Mungkin ini saatnya aku memikirkan masa depanku.
“Lain waktu kita akan bicarakan
ini sampai adikmu sadarkan diri dan sembuh total.’ ayah mengingatkan.
Aku memandang Felie dari luar
kamar. Aku berharap semoga dia bisa sadar dan mendengar jika kakaknya akan
menikah. Ada satu bulan Felie rawat jalan. Aku sebagai kakaknya setia berada di
sampingnya. Karena kesehatannya yang mulai membaik, keluargaku dan keluarga Rena
membahas pernikahan kami.
“Kaliam mau seperti apa konsep
pernikahannya? tanya ibu Rena.
“Kita mau yang konsepnya modern
aja.” kata Rena.
Ayahku tertawa mendengarnya.
“Jadi kalian sudah pikirin inin sebelumya? Rena dan aku tersenyum malu. Karena
sudah disepakati dua belah pihak, acara pernikahan akan diselenggarakan dua
bulan mendatang. Temanku Ray dan Sa,m senag mendengar ini, bahkan Mona teman
satu gang Rena dulu membantu dalam urusan gaun pengantin.
“Ren menurutku, ini cocok untuk
kamu deh? Kamu kan orangnya simple dan elegant gitu.”
“Aku pikir, ya juga sih. Nathan,
gaunnya cocok buat aku ngga?” aku
menganggukan kepala. Seperti itu
saja dia sudah terlihat cantik, apalagi saat acara nanti. Tidak terasa acara
pernikahan kami sudah tiba. Aku mengikrarkan ijab Kabul dengan lantang, sampai
sbelumnya aku harus latihan. Tapi sekarang aku lega karena sudah menjalani itu.
“Ccciiee…. yang udah nikah.’ ejek
Mona dan Felie.
Rena langung memarahi mereka
karena malu. Ray juga tidak ingin kalah dengan Mona dan Felie, dia membisikkan
ini padaku. “Nat, hati-hati mainnya. Slow aja.” Aku yang tidak mengerti
langsung bertanya “Maksudnya?’
“Pura-pura polos. Malam pertama.”
“Ngeres banget sih pikiran lho.”
reflek aku mendorongnya sampai terjatuh. Sam yang melihat bertanya mengapa aku
lakukan itu. Aku jawab saja itu hanya sebuah candaan.
Enam bulan berlalu. Seperti biasa
aku menjalankan perusahaan ayah dan menjaga janin yang ada dalan rahim Rena.
Sudah lima bulan dia mengandung, tidak sabar melihanya ke dunia.
Ngomong-ngomong bagaimana kehidupan Sam dan Ray?
Sam sekarang menjadi seorang chef
dan memiliki restaurant sendiri. Aku dan Rena tak jarang makan di sana. Kalau
Ray tetap menjadi dirinya, pembalap motor. Tapi ini berbeda, sekarang dia
bermain di arena balapan bukan jalan lagi.
Jika Mona menjadi designer
terkenal dan membuka butik di berbagai kota dan adikku , seperti biasa
menjalankan kuliahnya selain menemani Rena di waktu senggang.
Sekarang aku melihat kehidupan
yang ada di depanku. Perubahan yang terjadi padaku dan orang lain. Rena, orang
yang dulu kubenci, sekarang menjadi istriku. Aku sudah jauh-jauh mencari wanita
di luar sana tapi dia yang terpilih. Aku baru mengerti wanita yang aku tidak
suka, tidak menutup kemungkinan menjadi wanita yang kucintai, karena dari ketidaksukaan
itu membuat aku menjadi dekat dan selalu terpikirkan olehnya.
Sampai sini dulu ceritaku. Sampai
jumpa dan selamat membaca kumcer JWP lainnya. Ciao!!!
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar