Kamis, 09 Maret 2017

CERPEN: Rasa Yang Timbul Dari Tidak Suka

GANG  

      Di meja makan saat sarapan aku hanya terdiam, tidak menggubris perkataan ayah sama sekali. Aku sudah bosan dengan ayah karena menjodohkan dengan anak temannya yang bernama Rena. Gimana aku bisa mau, karena Rena adalah pemimpin dari musuh gang aku. Yang adalah kalau serumah bakal ada tarian lempar piring.
            “Nathan, kamu jawab dong kalau ditanya, kok diem terus?”
            “Ah, males, ayah tetap jodohin aku.”
            Aku memilih pergi untuk meredakan emosi. Lebih baik aku ke markas pusat degan mengendarai Jack. Jack adalah panggilan kesayangan untuk motorku. Seperti biasa, jika ada masalah aku selalu bilang dengan mereka dan yang masih kutemui sampai sekarang yaitu Sam dan Ray.
            “Apa? Ayah lho masih jodohin lho ma Rena? Ngga nyerah ya dia?”
            “Yups…aku ngga mau nikah sama tuh orang. Titik…”
            Sam yang melihatku dari tadi langsung menasehatiku dengan duduk di samping. “Lebih baik lho nurut aja. Dia ngga buruk-buruk amat. Lho ngga sayang sama bokap lho. Gue akui, Rena adalah musuh terberat kita. Tapi pikirin deh bokap lho. Semenjak nyokap lho meninggal, kayanya lho agak sedikit brutal.” 
            Aku yang tidak terima dengan perkataan Sam, langsung membantahnya dengan sewot. “Kamu milih Rena dibanding gue?”
            “Bukan gitu, Nat. Semenjak nyokap lho meninggal pasti dia ngerasa kesepian. Yang diharapkan sekarang dari bokap lho adalah lho bisa mewujudkan keinginan dia. Coba aja dulu.”
            “Ada angin apa lho jadi dewasa gini? tanyaku heran.
            “Kita bukan anak-anak lagi kaya gang berandalan di sekolah. Udah seharusnya kita pilih jalan kita masing-masing.”
            Aku yang melihat perubahan Sam  kagum dengan dia karena Sam dulu adalah anak ternakal di gang dan terbandel di sekolah. Tapi, sekarang dia mensehatiku dengan dewasa. Aku jadi malu karena aku yang dulu sebagai pemimpin gang dan yang tertua berpikiran seperti bocah.
            “OK, gue rundingin ini sama Rena. Aku pergi dulu.”
            “Aku doain supaya lancar.” jawab Ray. 
            Aku menyalakan motorku dan menuju rumah Rena. Katanya saat di telpon, dia sedang ada di rumah. Ketika masih di jalan aku menerima sebuah panggilan. Awalnya tidak ingin aku angkat, tapi akhirnya aku menepikan motorku dari jalan karena ponsel yang terus berdering.
            “Oh, Rena, kenapa telpon aku?”
            “Kita ketemu di taman aja. Aku mau ngomong serius tanpa didenger kedua orangtuaku.”
            “Ha? Taman? Sejak kapan kamu punya sifat cewek?”
            “Ngga usah banyak tanya.” dengan sewot dia memutus sambungannya. Benar-benar cewek yang aneh. Ketika sampai aku mencarinya di sudut taman, tapi tidak ketemu. Aku jadi ragu apa benar dia mengajakku ke sini atau dia ingin mengerjaiku. Karena jarak rumah Rena dan taman sangatlah dekat.
Sepuluh menit aku menunggu akhirnya dia datang penampilan yang berbeda, memakai dress dengan rambut terurai. Hatiku jadi berdebar.
            Tanyanya dengan sinis. “Mau ngomong apa? Ngajak kelahi lagi?” jawabku tegang.“Masalah perjodohan kita.”
            “Kapan kamu jadi cowok serius? Bukannya kamu cowok jalanan yang selalu tret-tretan. Tumben kamu bahas ini?”
            “Semenjak Sam nasehatin aku, aku jadi kepikiran sama ayah.”
            Rena yang mendengar nama Sam tidak percaya jika dia bisa merubahku. Menurutnya, Sam adalah anak ternakal di sekolah kami dulu. Itu sama seperti pemikiranku sebelumnya namun aku menyakinkan kalau Sam sudah berubah.
            “Kamu mau ngomong apa masalah perjodohan?”
            “Aku memilih untuk meneruskan perjodohan ini.” Rena kaget dengan keputusanku. “Apa, kamu setuju” Alasannya?”
            “Aku mikirin ayah. Aku tahu, ini buka alasan yang kuat untu perjodohan kita. Tapi kenapa ngga kita coba aja dulu.”
            “Coba? Perjodohan kita itu langsung naik pelaminan, Nat.”
            Perjodohan ini bukan main-main. Aku harus menikah dengan wanita yang dulu kubenci. Kalu aku menikahinya, itu berarti aku harus hidup semati dengannya. Aku harus bertanggung jawab jika dia berbuat salah karena nanti aku akan menjadi suaminya.
Tak lama aku mendapat telpon dari ayah jika adikku, Felie kecelakaan. Aku yang mendapat kabar itu langsung buru-buru ke rumah sakit dan Rena ingin ikut denganku untuk tahu kondisinya.
Untuk pertama kalinya aku satu motor dengan Rena. Dia memeluk tubuhku seperti seorang kekasih. Aku jadi berpikiran yang aneh-aneh. Karena jalan yang macet membuatku datang telat ke rumah sakit. Aku langsung bertanya pada receptionist. Katanya Felie dirawat di ruang UGD karena luka yang cukup parah.
Aku melihat ayah terduduk di bangku tunggu sambil menegarkan hatinya. Tiba-tiba ayah bingung kenapa aku bisa jalan bersama dengan Rena. Menurutnya itu kejadian yang langka. Kemudian aku berkata pada ayah aku setuju dengan perjodohan ini.
Ayah kaget dengan itu.“Apa? Kamu ngga bercanda, kan?” aku meyakinkanya “Ya yah, aku setuju. Tapi kalau Rena masih belum tahu.” Aku dan Rena saling berpandangan. Sangat lama Rena menjawabnya. Aku tahu saat ini dia sedang bingung. Kalau aku jadi dia, aku pasti akan sama dengannya.
Akhirnya dia berkata ya. Tidak sampai di situ, aku akan meneruskan perusahaan ayah. Tergurat senyuman ayah yang membuatku senang. Mungkin ini saatnya aku memikirkan masa depanku.
“Lain waktu kita akan bicarakan ini sampai adikmu sadarkan diri dan sembuh total.’ ayah mengingatkan.
Aku memandang Felie dari luar kamar. Aku berharap semoga dia bisa sadar dan mendengar jika kakaknya akan menikah. Ada satu bulan Felie rawat jalan. Aku sebagai kakaknya setia berada di sampingnya. Karena kesehatannya yang mulai membaik, keluargaku dan keluarga Rena membahas pernikahan kami.
“Kaliam mau seperti apa konsep pernikahannya? tanya ibu Rena.
“Kita mau yang konsepnya modern aja.” kata Rena.
Ayahku tertawa mendengarnya. “Jadi kalian sudah pikirin inin sebelumya? Rena dan aku tersenyum malu. Karena sudah disepakati dua belah pihak, acara pernikahan akan diselenggarakan dua bulan mendatang. Temanku Ray dan Sa,m senag mendengar ini, bahkan Mona teman satu gang Rena dulu membantu dalam urusan gaun pengantin.
“Ren menurutku, ini cocok untuk kamu deh? Kamu kan orangnya simple dan elegant gitu.”
“Aku pikir, ya juga sih. Nathan, gaunnya cocok buat aku ngga?” aku   menganggukan kepala.  Seperti itu saja dia sudah terlihat cantik, apalagi saat acara nanti. Tidak terasa acara pernikahan kami sudah tiba. Aku mengikrarkan ijab Kabul dengan lantang, sampai sbelumnya aku harus latihan. Tapi sekarang aku lega karena sudah menjalani itu.
“Ccciiee…. yang udah nikah.’ ejek Mona dan Felie.
Rena langung memarahi mereka karena malu. Ray juga tidak ingin kalah dengan Mona dan Felie, dia membisikkan ini padaku. “Nat, hati-hati mainnya. Slow aja.” Aku yang tidak mengerti langsung bertanya “Maksudnya?’
“Pura-pura polos. Malam pertama.”
“Ngeres banget sih pikiran lho.” reflek aku mendorongnya sampai terjatuh. Sam yang melihat bertanya mengapa aku lakukan itu. Aku jawab saja itu hanya sebuah candaan.
Enam bulan berlalu. Seperti biasa aku menjalankan perusahaan ayah dan menjaga janin yang ada dalan rahim Rena. Sudah lima bulan dia mengandung, tidak sabar melihanya ke dunia. Ngomong-ngomong bagaimana kehidupan Sam dan Ray?
Sam sekarang menjadi seorang chef dan memiliki restaurant sendiri. Aku dan Rena tak jarang makan di sana. Kalau Ray tetap menjadi dirinya, pembalap motor. Tapi ini berbeda, sekarang dia bermain di arena balapan bukan jalan lagi.
Jika Mona menjadi designer terkenal dan membuka butik di berbagai kota dan adikku , seperti biasa menjalankan kuliahnya selain menemani Rena di waktu senggang.
Sekarang aku melihat kehidupan yang ada di depanku. Perubahan yang terjadi padaku dan orang lain. Rena, orang yang dulu kubenci, sekarang menjadi istriku. Aku sudah jauh-jauh mencari wanita di luar sana tapi dia yang terpilih. Aku baru mengerti wanita yang aku tidak suka, tidak menutup kemungkinan menjadi wanita yang kucintai, karena dari ketidaksukaan itu membuat aku menjadi dekat dan selalu terpikirkan olehnya.
Sampai sini dulu ceritaku. Sampai jumpa dan selamat membaca kumcer JWP lainnya. Ciao!!!

THE END







Tidak ada komentar:

Posting Komentar